Oleh: Hafizul Fahmi,SE
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Sumatera Barat
Bulan suci Ramadan telah berlalu. Gema takbir berkumandang, pertanda kita memasuki bulan Syawal dan merayakan Idulfitri. Momen ini seharusnya menjadi ajang mensyukuri nikmat Allah dan mempererat silaturahmi. Di Kabupaten Pasaman, khususnya Kecamatan Rao Selatan, berbagai tradisi dan inovasi selalu hadir mewarnai suasana Idulfitri. Mulai dari panjat pinang, silek situo, hingga pertunjukan seni budaya yang kental dengan nilai adat dan syariat.
Namun, saya sebagai bagian dari generasi muda Lansek Kodok, merasa prihatin melihat salah satu tradisi yang kini justru melenceng dari nilai luhur tersebut. Di berbagai kampung, acara halal bi halal yang sejatinya bertujuan mempererat ukhuwah, justru disalahgunakan. Halal bi halal dikemas dengan hiburan orgen tunggal, mengundang artis (katanya), bahkan diwarnai dengan perilaku negatif yang jauh dari semangat Islam dan adat Minangkabau.
Biasanya, sebelum pelaksanaan, niniak mamak naik ke rumah gadang untuk bermusyawarah pada malam 27 Ramadan. Mereka menentukan acara apa saja yang boleh dilaksanakan. Tradisi ini seharusnya menjadi filter budaya, namun realitanya, ada acara-acara yang luput dari kontrol nilai tersebut.
Lebih miris lagi, pada perayaan Idulfitri 2025 ini, di salah satu kampung di Nagari Lansek Kodok, acara halal bi halal justru menghadirkan orgen tunggal dan musik DJ, yang diiringi tarian bergoyang di depan panggung — dengan latar belakang bangunan masjid yang hanya berjarak beberapa meter saja.
Pemandangan ini sungguh menyayat hati. Di saat Idulfitri harusnya menjadi ajang memperbanyak takbir, tahmid, dan tasbih, malah dinodai dengan hiburan duniawi yang melanggar norma agama dan adat.
Melalui wawancara saya dengan beberapa pemuda, fakta mengejutkan terungkap: pembukaan acara diisi dengan lelang singgang ayam yang diikuti para tokoh masyarakat, bahkan anggota dewan. Semakin malam, hiburan bergeser menjadi ajang berjoget vulgar di atas panggung, bergiliran antara pemuda dan artis undangan.
Yang lebih memprihatinkan, tidak sedikit ditemukan pemuda yang terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol, ganja, hingga narkoba lainnya di sekitar acara tersebut. Meskipun tidak semua terlibat, tetapi cukup untuk membuat citra generasi muda kita tercoreng.
Saya menyatakan dengan tegas, ini bukanlah cerminan dari budaya halal bi halal yang sebenarnya. "Kita harus berani berkata tidak pada kegiatan yang merusak akhlak dan masa depan generasi kita," tegas saya, Hafizul Fahmi, sebagai pemuda Lansek Kodok yang mencintai adat, budaya, dan agama.
Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius semua elemen: niniak mamak, tokoh pemuda, jorong, wali nagari, hingga aparat kepolisian. Kita tidak bisa membiarkan "halal bi halal" menjadi kedok bagi berkembangnya penyakit masyarakat (pekat) di tengah-tengah kita.
Sebagai solusi, masyarakat diajak untuk menghidupkan kembali kegiatan positif berbasis kearifan lokal dalam menyemarakkan Idulfitri. Kita bisa adakan lomba silek tradisional, pertunjukan randai, bazar kuliner kampung, lomba tilawah Quran, atau kegiatan sosial berbagi untuk kaum dhuafa. Ini bukan hanya mempertahankan adat dan agama, tapi juga membentengi generasi kita dari kerusakan moral.
"Kalau bukan kita yang menjaga kampung ini, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mari kita ramaikan Idulfitri dengan kegiatan yang membanggakan adat dan agama," ajak saya kepada seluruh pemuda, niniak mamak, dan masyarakat Rao Selatan.
Mari kita maknai Idulfitri dengan benar — sebagai momentum memperkuat iman, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menjaga budaya luhur warisan nenek moyang.
Bersama kita bisa wujudkan:
"Idulfitri Bermartabat, Generasi Hebat Tanpa Pekat!(MAL)



Social Footer