TANGGAMUS LIMAU– Riautama.Com
Pelaksanaan proyek pembangunan jalan Lapis Tipis Aspal Pasir (Latasir) di Pekon Kuripan, Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus, menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Proyek yang dibiayai oleh APBD Kabupaten Tanggamus tersebut diduga dikerjakan asal-asalan dan tidak sesuai standar kualitas.
Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, kondisi fisik jalan tampak memprihatinkan.
Di beberapa titik, lapisan aspal terlihat sangat tipis hingga butiran materialnya mudah terkelupas. Bahkan, pada bagian ujung jalan, kondisi badan jalan sudah tampak amblas meski baru selesai dibangun.
Menurut keterangan warga setempat, proses pengerjaan jalan tersebut terkesan sangat terburu-buru. Seluruh rangkaian pengaspalan hanya memakan waktu sekitar lima hari.
Selain masalah teknis, pihak kontraktor juga disorot karena tidak memasang papan informasi proyek selama masa pengerjaan. Hal ini membuat warga bingung mengenai asal-usul dan detail kegiatan tersebut.
"Kami sempat kaget, tiba-tiba ada pekerjaan jalan di sini. Tidak ada papan proyek, jadi kami tidak tahu ini anggarannya berapa dan dari mana," ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Warga menduga amblasnya jalan tersebut disebabkan oleh pondasi bawah yang tidak menggunakan batu sesuai standar serta proses pemadatan yang tidak maksimal.
"Baru saja seminggu dibangun, dilewati mobil pick-up kok sudah amblas. Kualitas pekerjaannya sangat buruk," keluh warga lainnya dengan nada kecewa.
Tak hanya persoalan jalan, di ruas yang sama juga ditemukan dua unit saluran air berupa gorong-gorong yang kondisinya sudah jebol, menambah deretan kerusakan pada proyek yang seharusnya menjadi penunjang mobilitas warga tersebut.
Hasil penelusuran lebih lanjut mengungkapkan bahwa proyek ini dikerjakan oleh CV Bumi Pratama dengan pagu anggaran mencapai Rp200 juta yang bersumber dari APBD Kabupaten Tanggamus.
Masyarakat Pekon Kuripan kini berharap kepada Dinas terkait dan pihak pengawas untuk segera turun ke lapangan guna melakukan evaluasi serta mengkaji ulang hasil pekerjaan tersebut. Warga meminta agar pihak rekanan bertanggung jawab memperbaiki kerusakan agar anggaran negara tidak terbuang sia-sia.(Hlm)



Social Footer