Riautama.com - Batam — Di tengah gencarnya narasi penindakan penyelundupan dan pengawasan jalur laut oleh aparat, sebuah pelabuhan tikus di kawasan sebelum Jembatan III Barelang justru diduga beroperasi nyaris tanpa sentuhan hukum. Aktivitas bongkar muat berlangsung tertutup, akses dijaga ketat, dan siapa pun yang mencoba mendekat disebut langsung dicurigai.
Situasi ini memunculkan pertanyaan keras di tengah masyarakat: siapa sebenarnya yang bermain di balik aktivitas pelabuhan tersebut?
Sebab, publik menilai mustahil sebuah aktivitas bongkar muat di jalur laut strategis bisa berlangsung begitu leluasa tanpa ada pihak yang diduga memberi perlindungan atau pembiaran.
Berdasarkan hasil investigasi tim media di lapangan, pelabuhan tidak resmi itu diduga menjadi jalur keluar-masuk barang secara diam-diam melalui laut. Aktivitas berlangsung tertutup dari pantauan publik dan jauh dari pengawasan terbuka.
Lokasinya yang berada di jalur sebelum Jembatan III Barelang dinilai sangat strategis dan rawan dimanfaatkan sebagai titik distribusi barang ilegal. Kawasan tersebut memiliki akses laut terbuka dan jalur keluar-masuk kendaraan yang relatif minim pengawasan masyarakat.
Saat tim investigasi melakukan pemantauan langsung, terlihat satu unit lori box roda enam masuk ke area pelabuhan. Kendaraan itu diduga sedang melakukan aktivitas bongkar muat barang dari kapal yang bersandar di lokasi.
Namun suasana mulai terasa janggal ketika awak media mencoba meminta penjelasan terkait isi muatan lori tersebut.
Salah seorang di lokasi menyebut kendaraan membawa “paket J&T”. Tetapi anehnya, penjaga gerbang justru memberikan jawaban berbeda dengan mengatakan isi muatan hanyalah “sayur”.
Perbedaan jawaban itu langsung memicu tanda tanya besar.
Jika aktivitas tersebut legal dan tidak ada yang ditutupi, mengapa keterangan antar penjaga justru saling bertolak belakang?
Mengapa informasi sederhana soal isi muatan kendaraan terkesan ditutup rapat?
Kejanggalan demi kejanggalan itu justru semakin memperkuat dugaan bahwa ada aktivitas tertentu yang tidak ingin diketahui publik.
Ketegangan di lokasi semakin terasa ketika awak media melakukan pengambilan foto dan video sebagai bagian dari kerja jurnalistik.
Saat hendak meninggalkan area, seseorang yang diduga pekerja atau penjaga pelabuhan tiba-tiba menutup pagar gerbang keluar dan meminta secara paksa agar seluruh dokumentasi dihapus dari handphone wartawan.
Tindakan tersebut langsung memicu sorotan keras karena dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap kerja pers yang dilindungi undang-undang.
Banyak pihak menilai, kepanikan saat kamera mulai merekam justru semakin memperkuat dugaan bahwa aktivitas di lokasi tersebut bukan aktivitas biasa.
“Kalau memang legal, kenapa harus panik saat direkam? Kenapa wartawan sampai diminta hapus video? Ada apa sebenarnya di dalam sana?” ujar seorang warga dengan nada geram.
Sorotan publik kini mengarah tajam pada lemahnya pengawasan jalur pesisir di Batam.
Sebab, pelabuhan tikus selama ini kerap disebut sebagai jalur favorit masuknya berbagai barang ilegal. Mulai dari rokok tanpa pita cukai, elektronik bekas, pakaian balpres, sparepart ilegal, hingga barang impor tanpa dokumen resmi.
Tak sedikit masyarakat mulai menduga adanya praktik pembiaran atau dugaan “main mata” oleh oknum tertentu sehingga aktivitas di pelabuhan tikus bisa bertahan dan berjalan mulus dalam waktu lama tanpa tindakan tegas.
Publik kini menunggu langkah nyata aparat penegak hukum untuk membongkar apa yang sebenarnya terjadi di balik aktivitas pelabuhan tersebut.
Bea Cukai didesak segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap arus barang yang keluar masuk dari lokasi itu.
Kepolisian diminta menyelidiki dugaan intimidasi terhadap wartawan sekaligus menelusuri kemungkinan adanya praktik penyelundupan.
Sementara itu, Dinas Perhubungan dan instansi terkait juga didorong untuk mengecek kebenarannya.. ( Guntur H )



Social Footer