Riautama.com - Batam, Bau busuk menyengat menusuk hidung, lalat hijau beterbangan, dan belatung yang menggeliat di antara tumpukan sampah kini menjadi pemandangan sehari-hari yang harus ditelan pahit oleh warga Perumahan Botania Garden, Batam Kota.
Sudah tiga minggu lamanya, wilayah hunian yang seharusnya bersih dan nyaman ini berubah menjadi “bom waktu” ekologis. Sampah-sampah rumah tangga yang tak kunjung diangkut kini menumpuk tinggi, membusuk, dan secara ekstrem berubah menjadi sarang tikus.
Kondisi memprihatinkan ini jelas merengenggut kenyamanan aktivitas warga dan secara nyata mengancam kesehatan lingkungan sekitar. Wabah penyakit seolah tinggal menunggu waktu untuk menjangkiti warga Botania Garden jika situasi ini terus dibiarkan.
Ironisnya, di tengah buruknya pelayanan ini, warga tetap dituntut untuk menunaikan kewajiban finansial mereka. Setiap bulan, warga ditarik iuran kebersihan sebesar Rp 55.000 yang dipungut melalui pihak security perumahan.
“Kami heran, iuran bulanan sebesar 55 ribu rupiah tidak pernah telat dipungut lewat sekuriti, tapi nyatanya sudah tiga minggu sampah dibiarkan menumpuk sampai membusuk begini. Hak kami sebagai warga yang taat bayar ke mana?” ujar Sukamto, salah seorang warga setempat dengan nada kecewa.
Sukamto menegaskan bahwa warga sudah berada di batas kesabaran dan berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam segera turun tangan mengambil tindakan nyata sebelum dampaknya semakin meluas.
Merespons jeritan warga Botania Garden, tim redaksi Bataminsight.com mencoba meminta klarifikasi langsung kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam pada Senin (15/6/2026) .
Namun sayang, alih-alih memberikan solusi atau penjelasan transparan mengenai penyebab macetnya armada pengangkut sampah, orang nomor satu di DLH Kota Batam tersebut justru memilih bungkam seribu bahasa saat media ini melakukan konfirmasi melalui pesan singgakt WhatsAap. Tidak ada satu pun keterangan jelas terkait pembiaran yang sudah berlangsung hampir sebulan ini.
Sikap diam dan cuek dari sang Kepala Dinas ini langsung memicu sorotan tajam dari publik. Kinerja DLH Kota Batam dinilai melempem dan tidak profesional dalam menangani urusan krusial yang menyangkut hajat hidup dan kesehatan masyarakat Batam. Warga kini mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan kota, ketika retribusi ditarik namun pelayanan berantakan
Sumber ; Rilis
Editor ; Guntur Harianja



Social Footer