Menghina Negara dan Kepala Negara adalah Kebodohan
*Menghina Negara dan Kepala Negara adalah Kebodohan*
_Oleh Yonge Sihombing, S.E., M.B.A._
- Ketua Umum Panitia Percepatan Provinsi Tapanuli
- Ketua The Prabowonomics Institute
- Penulis Buku _Prabowonomics_
Negara bukan sekadar garis di peta atau lagu yang dinyanyikan tiap Senin pagi. Negara adalah rumah kita bersama. Di dalamnya ada jutaan manusia, sejarah panjang, budaya, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menghina rumah sendiri sama artinya merusak tempat kita berteduh.
Demikian pula kepala negara. Setuju atau tidak setuju dengan kebijakannya, jabatan itu memikul beban yang jarang kita lihat: keputusan yang berdampak pada 280 juta jiwa, tekanan geopolitik, dan tanggung jawab 24 jam. Menghina pribadi pemegang amanah bukanlah kritik. Itu sekadar luapan emosi.
*1. Menghina ≠ Mengkritisi*
Kritik membedah dengan data, argumen, dan solusi. “Kebijakan A gagal karena X dan Y. Seharusnya dilakukan Z.” Hinaan hanya memaki: “Pemimpin bodoh, negara rusak.” Yang satu membuka ruang diskusi, yang lain menutup pintu dialog. Bangsa maju lahir dari adu gagasan, bukan adu kata kasar.
*2. Efek Domino bagi Persatuan*
Menghina simbol negara berarti meremehkan identitas bersama. Garuda, Bendera Merah Putih, Pancasila—semuanya adalah perekat. Begitu diremehkan, yang retak bukan hanya wibawa, tetapi juga rasa “kita”. Jika “kita” sudah pecah, adu domba jadi mudah. Lawan dari kebodohan menghina adalah kebijaksanaan menjaga.
*3. Melukai Diri Sendiri*
Orang yang tiap hari menebar hinaan terhadap negaranya, lama-lama pikirannya ikut rusak. Yang terlihat hanya kesalahan, tidak ada solusi. Hidup menjadi sinis. Padahal energi untuk menghina, jika dialihkan untuk berkarya, mengajar, atau mengawasi kebijakan, hasilnya akan nyata.
*4. Pemimpin Juga Manusia*
Kepala negara bukan malaikat. Ia bisa salah, lambat, atau khilaf. Tapi ia juga manusia yang keluarganya membaca komentar publik. Menghina pribadi berbeda dengan mengevaluasi kerja. Jika ingin negara lebih baik, kritik kebijakannya. Serang idenya, bukan harkat manusianya.
*5. Cermin bagi Generasi Muda*
Anak-anak belajar dari kita. Jika yang mereka lihat setiap hari adalah makian kepada negara dan pemimpin, mereka tumbuh menjadi generasi apatis atau pemberontak tanpa arah. Sebaliknya, jika mereka melihat kritik cerdas disertai aksi nyata, mereka akan tumbuh menjadi warga yang berani memperbaiki, bukan merobohkan.
*6. Ada Jalur yang Lebih Terhormat*
Tidak suka kebijakan tertentu? Ada DPR, kanal aduan resmi, aksi damai, tulisan ilmiah, dan gerakan komunitas. Semua jalur itu jauh lebih beradab daripada kolom komentar penuh makian. Negara telah menyediakan ruang itu. Sayang jika tidak dimanfaatkan.
*Saya Beruntung Mendapat Nasehat*
Saya merasa sangat beruntung karena di masa muda mendapat nasihat dari para guru dan pendahulu.
Almarhum Prof. Dr. Amudi Pasaribu, M.Ec., mantan Rektor Universitas HKBP Nommensen, berpesan: “Jangan pernah menghina negara dan pemerintahmu, seburuk apa pun itu. Tugasmu adalah membantu negara dan pemerintah, bukan menghina.”
Almarhum Dr. Polin Pospos, Ph.D., ekonom nasional, ketika saya menjadi asistennya di FE Univ. HKBP Nommensen Medan, dan di Kelompok Ahli Gubernur Sumatera Utara juga tidak pernah beliau menghina negara dan pemerintah. Beliau justru membantu.
Hal yang sama saya alami saat menjadi asisten Dr. Ir. Benny Pasaribu, M.Ec., di Komisi IX, Badan Anggaran DPR RI dan Program MPKP Universitas Indonesia Beliau tidak pernah menghina negara dan kepala negara. Beliaulah konseptor dan perancang Dana Alokasi Umum - DAU dalam APBN. Tanpa beliau, mungkin kita tidak akan mengenal DAU yang sampai hari ini menjadi transfer pusat ke daerah untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan jalan di pelosok.
Begitu pula H. Wagirin Arman, S.Sos., Ketua DPRD Sumatera Utara, ketika saya menjadi asistennya, saya tidak pernah mendengar beliau menghina negara dan kepala negara. Demikian juga Dr. Anton Leonard Pospos, pimpinan saya di salah satu perusahaan konsultan, yang juga tidak pernah menghina negara dan kepala negara.
Dari semua guru dan mentor inilah karakter saya terbentuk: tidak pernah menghina negara dan kepala negara. Ditambah watak bawaan yang memang tidak suka menghina.
Di era Presiden Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi, hingga Prabowo, saya tidak pernah terpikir, apalagi mengucapkan kata-kata yang menghina negara dan kepala negara. Saat itu saya menyalurkan kritik melalui tulisan. Justru itu melatih saya memilih kalimat dan kata yang bijak.
Saya bersyukur karena merasakan betapa damai hati dan pikiran ketika berada pada posisi menyampaikan hal positif untuk negara dan kepala negara.
*Penutup: Pilih Jadi Tukang Roboh atau Tukang Bangun*
Tidak ada negara yang sempurna. Tidak ada pemimpin tanpa cacat. Jepang pernah hancur, Korea pernah miskin, Singapura dulu “kota rawa”. Mereka bangkit bukan karena warganya paling jago menghina. Mereka bangkit karena warganya paling jago memperbaiki.
Rumah ini milik kita semua. Mau dirobohkan dengan hinaan, atau dibangun dengan akal sehat dan kerja keras? Jempol kita yang menentukan.
_“Negara kuat karena warganya dewasa. Warga dewasa karena mengerti beda antara kritik dan caci.”_




Social Footer