Riautama.com - Batam — Tertangkapnya Basri, yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dalam perkara narkotika, berpotensi menjadi titik balik pengungkapan jaringan yang selama ini masih menyisakan banyak tanda tanya.
Bukan hanya soal bagaimana perjalanan Basri dalam jaringan narkotika berakhir. Pertanyaan yang jauh lebih besar kini berada di meja penyidik: ke mana saja aliran uang hasil transaksi narkoba selama ini mengalir, siapa yang menikmati, siapa yang membantu, dan siapa yang selama ini berada di balik layar?
Jika informasi mengenai pengamanan Basri oleh Tim Dittipidnarkoba Bareskrim Polri di Malaysia benar, maka babak baru penyidikan segera dimulai. Basri bukan lagi sekadar seorang buronan yang berhasil diamankan. Ia berpotensi menjadi kunci untuk membuka simpul-simpul jaringan yang selama ini belum terungkap.
Ketua Umum Aliansi LSM ORMAS Peduli Kepri, Ismail Ratusimbangan, menilai penyidik harus menggali keterangan Basri secara menyeluruh, khususnya mengenai dugaan aliran dana hasil transaksi narkotika.
“Harapan kita, Basri terbuka kepada penyidik. Siapa saja yang selama ini menerima atau menikmati uang hasil penjualan narkoba, semuanya harus ditelusuri,” ujar Ismail.
Menurutnya, pengungkapan perkara tidak boleh berhenti hanya pada orang yang tertangkap di lapangan. Jika memang terdapat jaringan yang lebih besar, maka seluruh mata rantai harus dibongkar berdasarkan bukti dan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab narkoba bukan hanya soal barang haram yang berpindah tangan. Ada uang besar yang bergerak di belakangnya.
Di sinilah penyidikan terhadap Basri menjadi penting.
Penyidik perlu menelusuri transaksi keuangan, rekening, aset, komunikasi, hubungan bisnis, serta pihak-pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas tersebut. Setiap aliran dana harus diuji dan dikonfirmasi dengan alat bukti, bukan sekadar berdasarkan cerita atau dugaan.
Aset-aset yang disebut telah diamankan, baik barang bergerak maupun tidak bergerak, juga menjadi bagian penting dalam proses pembuktian. Status kepemilikan, sumber dana pembelian, hubungan dengan pihak lain, hingga kemungkinan keterkaitan dengan fasilitas pembiayaan atau perbankan perlu diperiksa secara transparan.
Jangan sampai penyidikan hanya berhenti pada aset yang terlihat, sementara aliran uang yang lebih besar justru tidak pernah tersentuh.
Ismail juga menyinggung sosok Basri yang selama ini dikenal sebagian masyarakat sebagai pribadi yang baik, suka membantu dan aktif dalam kehidupan sosial.
Namun, citra sosial seseorang tidak otomatis menjelaskan asal-usul kekayaannya maupun membuktikan ada atau tidaknya keterlibatan dalam tindak pidana.
Karena itu, menurut Ismail, semua harus dikembalikan kepada proses hukum dan pembuktian.
“Kalau memang ada pihak lain yang terlibat, biarkan penyidik menemukan berdasarkan bukti. Jangan berhenti pada satu nama. Bongkar sampai ke akar-akarnya,” tegasnya.
Kini publik menunggu satu hal: apakah Basri akan menjadi titik akhir sebuah pengejaran, atau justru menjadi pintu masuk menuju jaringan yang jauh lebih besar?
Jika keterangan Basri mampu mengarahkan penyidik kepada aktor-aktor lain yang selama ini belum tersentuh, maka penangkapan tersebut bukan sekadar keberhasilan menangkap seorang DPO.
Itu bisa menjadi awal dari terbukanya tabir besar jaringan narkotika dan perputaran uangnya.
Tembok yang selama ini tampak kokoh bisa saja mulai retak.
Dan ketika satu batu pertama terlepas, bukan tidak mungkin batu-batu lainnya ikut runtuh.
Kini bola berada di tangan penyidik: telusuri barangnya, bongkar uangnya, periksa jaringannya, dan jika bukti mengarah kepada pihak lain, jangan berhenti sebelum seluruh mata rantai terungkap.
Jika benar Basri telah diamankan di Malaysia dan akan dibawa ke Jakarta untuk menjalani proses hukum, maka perjalanan panjang pelariannya memang memasuki babak akhir.
Tetapi bagi penyidik, pekerjaan terbesarnya justru mungkin baru dimulai.



Social Footer