Riautama.com - Bengkalis - Pelatihan di Kampung Pambang Pesisir mengubah potensi lokal menjadi keterampilan kreatif yang ramah lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi Kelompok Kerajinan Madani.
Foto 1. Anggota Kelompok Kerajinan Madani bersama tim pengabdian Universitas Riau memperlihatkan hasil karya ecoprint di Kampung Pambang Pesisir, Kabupaten Bengkalis
Daun mangrove yang selama ini lebih dikenal sebagai bagian penting ekosistem pesisir kini mendapat sentuhan baru di tangan perempuan Kampung Pambang Pesisir, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Melalui pelatihan ecoprint, bentuk dan pigmen alami daun dimanfaatkan untuk menciptakan motif khas pada kain, sekaligus menjadi pintu masuk bagi pengembangan kerajinan yang bernilai ekonomi dan tetap membawa pesan konservasi.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan oleh tim Universitas Riau dalam rangkaian kegiatan Juni–Agustus 2026 bersama Kelompok Kerajinan Madani Kampung Pambang Pesisir Kabupaten Bengkalis.
Pelatihan melibatkan 23 perempuan pesisir dan dirancang dengan pendekatan partisipatif serta learning by doing, sehingga peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi langsung mencoba setiap tahapan pembuatan ecoprint.
Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh Dr. Eko Prianto dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau, dengan dukungan tim lintas disiplin ilmu diantaranya Dr. Romie Jhonnerie, Erliantina Arridati Akita, M.Si (Fakultas Perikanan dan Kelautan), Yossi Oktorini, M.Si (Fakultas Pertanian), Ahmad Nawawi, M.Sc (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Dr. David Andrio (Fakultas Teknik) dan dibantu ibu Rini Ramadhanti, S.Pi dari White Tulip. Kegiatan didanai melalui DIPA Universitas Riau Tahun 2026 sebagai bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat. Kegiatan pengabdian ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Desa Pambang Pesisir Bapak Mahyudin dan dihadiri oleh pejabat desa. Dalam sambutannya Plt. Kepala Desa Pambang Pesisir mengapresiasi LPPM Universitas Riau dalam memberberdayakan masyarakat melalui kegiatan ecoprint. Harapanya melalui kegiatan ini, para perempuan desa mampu membuat usaha baru tanpa merusak ekosistem mangrove dan menambah income keluarga.
Ditempat yang sama ketua kegiatan Universitas Riau, Dr. Eko Prianto menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas Kelompok Kerajinan Madani dalam mengolah vegetasi mangrove menjadi produk ecoprint bernilai ekonomi tinggi yang mendukung kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat branding desa wisata pesisir. Mengingat sebagian besar Kampung Pambang Pesisir ini memiliki hutan mangrove yang cukup luas maka salah satu upaya menyelamatkannya dengan cara mencari mata pencaharian alternative berbahan dasar mangrove namun produk yang dihasilkan memiliki nilai jual yang tinggi. Untuk itu, kita pilih “ecoprint” berbahan baku daun mangrove sebagai alternatif usaha bagi masyarakat.
Foto 2. Suasana praktik langsung ecoprint. Peserta terlibat aktif menata bahan alami dan mengikuti tahapan produksi dengan pendampingan tim.
Sebelum pelatihan, sebagian besar peserta sebenarnya telah mengenal istilah ecoprint melalui media sosial maupun informasi dari lingkungan sekitar.
Namun, pengetahuan itu masih sebatas pengenalan dan belum disertai pengalaman teknis. Karena itu, tim pengabdian memfokuskan kegiatan pada penguatan keterampilan praktis agar peserta memahami proses produksi secara utuh. Peserta diperkenalkan pada konsep dasar ecoprint, fungsi alat dan bahan, serta prinsip pemanfaatan tumbuhan secara bertanggung jawab. Setelah itu, mereka mempraktikkan tahapan mordanting untuk menyiapkan serat kain, penataan daun sebagai motif, teknik pounding atau pemukulan untuk memindahkan bentuk dan pigmen tumbuhan, hingga proses fiksasi agar warna dan motif lebih bertahan.
Foto 3A. Peserta menata daun dan komposisi motif di atas kain.
Foto 3B. Proses pembuatan ecoprint dengan teknik pounding.
Pendekatan praktik langsung membuat suasana pelatihan berlangsung aktif. Peserta terlibat dalam diskusi, mengamati demonstrasi, bertanya tentang fungsi bahan, lalu mengerjakan produknya sendiri. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang tinggi. Peserta juga mulai mampu memahami bahwa kualitas ecoprint tidak hanya bergantung pada keindahan susunan daun, tetapi juga pada kesiapan kain, tekanan saat pounding, proses fiksasi, dan konsistensi pengerjaan. Bagi tim pengabdian, pemanfaatan mangrove dalam kegiatan kreatif bukan berarti mendorong eksploitasi vegetasi.
Daun ditempatkan sebagai sumber inspirasi dan media pembelajaran yang digunakan secara terbatas dan bertanggung jawab. Pengambilan bahan diarahkan agar tidak mengganggu pertumbuhan tumbuhan, termasuk dengan memanfaatkan daun yang tersedia secara wajar atau bagian tumbuhan yang dapat digunakan tanpa merusak ekosistem.
Pesan tersebut penting karena Pambang Pesisir memiliki keterkaitan yang kuat dengan kawasan mangrove. Potensi ekologis yang ada dapat dikembangkan menjadi nilai tambah sosial dan ekonomi apabila dikelola secara bijaksana. Ecoprint menawarkan salah satu contoh sederhana bagaimana pengetahuan lokal, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat bertemu dalam satu produk.
Foto 4. Hasil ecoprint berbasis bahan alami diperlihatkan setelah proses produksi. Setiap kain menghasilkan motif yang berbeda sesuai jenis daun, komposisi, dan teknik pengerjaan.
Kelompok Kerajinan Madani sendiri dibentuk sebagai wadah bagi masyarakat, khususnya perempuan, untuk mengembangkan usaha kerajinan.
Sebelum program ecoprint, aktivitas produktif kelompok berfokus pada kerajinan tikar pandan dan pengolahan hasil laut. Kehadiran keterampilan baru ini diharapkan memperluas pilihan produk, termasuk pengembangan kain dan tote bag bermotif khas pesisir yang berpotensi menjadi cinderamata lokal.
Dari sisi pemberdayaan, manfaat pelatihan tidak berhenti pada kemampuan teknis.
Kegiatan juga mendorong kreativitas, kepercayaan diri, dan kapasitas produktif peserta. Dalam jangka lebih panjang, ecoprint berbasis mangrove dinilai berpotensi menjadi bagian dari ekonomi kreatif pesisir yang menghubungkan keterampilan rumah tangga, identitas lokal, dan kesadaran konservasi.
Meski demikian, pengembangan menuju usaha yang berkelanjutan tetap membutuhkan pendampingan lanjutan. Beberapa aspek yang perlu diperkuat meliputi standardisasi kualitas, pengembangan desain, perhitungan biaya produksi, penguatan kelembagaan kelompok, kemasan dan branding, pemasaran digital, serta perluasan jaringan pasar. Dengan penguatan tersebut, keterampilan ecoprint tidak hanya menjadi hasil pelatihan sesaat, tetapi dapat tumbuh menjadi aktivitas ekonomi yang konsisten.
Melalui kegiatan ini, Universitas Riau mendorong model pengabdian yang menggabungkan transfer ilmu, pemanfaatan potensi lokal, dan penguatan masyarakat pesisir. Mangrove tetap dijaga sebagai penyangga kehidupan pesisir, sementara pengetahuan tentangnya dikembangkan menjadi kreativitas yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.***



Social Footer